Laman

Rabu, 05 November 2014

Dalam Gesekan Biola [Cerpen]

Dalam Gesekan Biola
Oleh Kartika Utomo

Legato di bar keenam belas,” suara pak Tony mengingatkanku tanpa beliau perlu berpaling dari tuts-tuts keyboard yang sedang dimainkannya. Bow yang sedang kupegang di tangan kananku sedikit goyah dan menggesek bridge dengan suara yang membuatku mengernyitkan alis.
Terlambat, pikirku mangkel. Bar keenam belas sudah berlalu satu setengah detik yang lalu.
Pertama kalinya aku mendengar istilah legato adalah saat aku berumur tujuh tahun. Yasmin berdiri di hadapanku sambil mengacung-acungkan bow yang dipegangnya dengan sembarangan. Aku mengernyit da segera mencondongkan badanku beberapa senti ke belakang, menghindari sabetan bow Yasmin.
“Jadi Rosa,” katanya sok tahu dengan nada menggurui yang sangat mirip Bu Yeti, guru musik kami di sekolah. “Kalau dua atau lebih not diesek ke satu arah yag sama, itu dinamakan legato. Nada-nada tersebut bisa ada di senar yang sama atau berbeda, namun jika kau menggeseknya satu arah, itu tetap legato namanya.”
Yasmin mengengguk meyakinkan di akhir pidato singkatnya, membuat rambut ikal sebahunya yang dikuncir dua memantul-mantul di pundaknya. Aku mencoba memasang wajah tanpa ekspresi karena aku tahu bahwa alternatif yang satunya—memasang tampang bosan—justru akan membuat Yasmin makin kesal.
Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa Yasmin terus-menerus repot-repot bersikeras mengulang pidato guru biolanya padaku. Aku toh tak pernah benar-benar mendengarkan, dan Yasmin tahu benar hal ini. Dugaanku mungkin dia merasa sudah kewajibanya sebagai juru bicara tidak resmi di antara kami untuk mengisi kesunyian yang sering kali kutimbulkan. Masalah juru bicara ini sampai sekarang masih membuatku geli. Kejadiannya saat kami berdua berumur lima tahun, dan setiap kali orang-orang menanyakan sesuatu pada kami hal-hal remeh seperti “Ih lucunya anak kembar. Nama kalian siapa?”, Yasmin selalu menjawab “Aku Yasmin. Ini soaudaraku Rosa” untuk kami. Aku memang lebih banyak diam. Dan setelahnya entah bagaimana Yasminlah yang selalu bicara atas nama kami berdua.
“...sebenarnya mendengarkan tidak sih Rosa?”
Suara kesal Yasmin menusukku, seketika mengembalikan tatapanku ke arah wajah yang persis sama dengan yang wajah yang kutatap tiap pagi di cermin. Yah, meski bayanganku di cermin tidak secerewet Yasmin, pikirku geli.
Aku kembali memasang wajah tanpa ekspresi andalanku ke Yasmin selama sedetik sebelum berdiri, mencomot asal-asalan celemek hitam yang tersampir di punggung kursiku, dan berjalan beberapa langkah menghampiri easelku di ujung balkon.
Aku hanya mendengar dengus kesal Yasmin saat aku meraih palette dan kuasku.
*
Yasmin tampil pertama kali memainkan biolanya setahun kemudian di aula sekolah saat perayaan hari kemerdekaan. Pita dan balon-balon warna merah putih menghiasi tiap sudut panggung. Dia memakai gaun terusan selutut yang mengembang dan berimpel dengan sebuah bando warna pink menghiasi rambutnya. Bibirnya yang dibubuhi lipstick oleh mama tertarik membentuk senyum puas selama dia memainkan Minuett. Mau tak mau aku merasakan sudut-sudut bibirku ikut tertari ke atas, tersenyum bangga.
*
“Apa kau sudah berlatih di rumah?” Pak Tony bertanya pada awal pertemuanku hari berikutnya.
Aku mengendikkan bahu, tak yakin apakah latihan asal-asalanku selama dua puluh menit di beranda tadi malam bisa disebut latihan.
Pak Tony menghela napas panjang.
Aku langsung dihinggapi rasa bersalah. Sudah dua minggu aku berlatih Air in G versi Violin I gubahan Johann Sebastian Bach dengan hasil yang tidak memuaskan. Pak Tony menginginkan sebuah duet saat beliau mengiringiku dengan versi Violin II, namun permainan biolaku yang pas-pasan belum bisa mengimbangi kesempurnaan gesekannya. Bukan hal yang mengagetkan memang. Namun dalam hati aku agak merasa bahwa pak Tony menuntut terlalu banyak dariku.
Aku bisa membayangkan reaksi Yasmin mendengar hal ini. Dia pasti akan menggelengkan kepala geli sambil berdecak pura-pura kecewa sambil berkata “ya ampun, Rosa, masa Air in G saja tidak bisa. Itu kan gampang banget. Coba waktu itu kau mau kubujuk latihan bareng, pasti sekarang kau sudah bisa berduet.”
Dahiku langsung berkerut hanya dengan membayangkannya saja. Tentu saja Yasmin akan bilang begitu. Dia pernah tampil di lomba musik klasik dan memainkan lagu itu dengan sempurna pada umur sebelas tahun.
“Dua setengah ketukan, Rosa. Kau terlalu cepat. Tadi baru dua ketukan kau sudah pindah ke nada berikutnya. Ulangi.”
Ups.
Teguran pak Tony yang tepat sasaran membuatku berhenti menggesek senar dan nyengir malu-malu. Aku memang sedikit kesulitan memainkan versi Violin I, tidak seperti saat aku memainkan versi Violin II yang menurutku lumayan gampang.
“Siap?” Tanya pak Tony.
Aku mengangguk.
Nada pertama sembilan ketukan. Aku mengingatkan diri sendiri dan mulai bermain.
*
Sore itu sehabis kursus privat biolaku, aku merebahkan diri di kasurku, mendesah lega, setelah menyandarkan biolaku ke tembok di balik stand partiturku. Biola Yasmin bersandar tepat di samping biolaku. Aku tersenyum getir. Tentu saja aku takkan bisa bermain sehebat Yasmin.
Setahun yang lalu, saat kami berdua berumur enam belas tahun, Yasmin menonton video pemecahan rekor permainan biola tercepat oleh idolanya David Garret yang memainkan Flight of the Bumblebee. Lagi itu memang legendaris sebagai sarana pemecahan rekor permainan biola tercepat. Ini membuat Yasmin menemukan ambisi baru untuk memainkan Flight of the Bumblebee dalam jangka waktu kurang dari satu menit.
Aku sempat melotot kaget saat pertama kali mendengarnya dan langsung skeptis. Setalah itu berkali-kali aku mencibir dan mengejeknya bahwa boleh saja dia latihan sampai jari-jarinya kapalan selama dua puluh tahun, namun dia tidak akan bisa bermain seperti si David.
Yasmin, sementara itu, bukannya mengkeret, malah semakin gencar berlatih. Dia tak pernah putus asa dan bahkan berlatih biola hingga lebih dari enam jam sehari. Saat aku sedang pusing mengerjakan PR, Yasmin berlatih biola; saat aku ingin tidur siang pada hari minggu, Yasmin juga berlatih biola; dan saat aku Cuma ingin menonton TV dengan tenang di suatu sore, lagi-lagi Yasmin dan biola menyebalkannya mengganggu dengan berisik. Beberapa kali aku bahkan sampai terpaksa mengungsi ke sofa ruang tengah hanya untuk bisa tidur. Jelas ini membuatku jengkel. Kami sempat bertengkar selama seminggu, minggu teraneh sepanjang hidupku.
Tiga hari setelah kami baikan, kaki kiri Yasmin terkilir saat pelajaran olahraga di sekolah, membuatnya bengkak dengan warna ungu mengerikan. Meski saat itu Yasmin berkilah “paling tidak yang bengkak cuma kakiku, bukan tanganku”, akibatnya dia tidak bisa pergi kursus biola sendiri. Dia mengeluh cukup lama tentang bagaimana proyek Flight of the Bumblebeenya tertunda. Dan coba tebak siapa yang menjadi tumbal, dan harus menjadi tukang ojek pribadinya dari hari ke hari selama kaki Yasmin masih belum kondusif sebagai pemindah gigi motor. Tentu saja aku.
“Rosa, ayo...!”
Yasmin mengguncang-guncang bahuku, membuatku terbangun dari mimpi yang hanya samar-samar kuingat, masih mengantuk.
“Hmmm.”
“Rosa, antarkan aku ke tempat kursus. Kamu lupa ya?”
Aku membuka mata dan memaksa tubuhku bangkit dari kasur sambil menguap. Aku menggerundel tak jelas sambil mengucek-ucek mataku, meski dalam hati aku tak bisa menyalahkan Yasmin karena mengganggu tidur siangku. Toh bukan sepenuhnya salah Yasmin kalau dia memang tidak bisa lompat tinggi. Maka lima menit kemudian, setelah cuci muka dengan buru-buru, Yasmin duduk manis memboncengku melewati jalan raya utama di kota kami menuju sekolah musik tempatnya kursus biola.
Segalanya terjadi secepat kilat. Sesaat tangan Yasmin masih memeluh pinggangku, lalu sesaat kemudian rasa perih mencuat dari lutut dan sikuku. Baru setelahnya kusadari aku sudah terbaring di aspal yang panas dalam keadaan tengkurap. Aku meringis kesakitan dan merangsek berusaha duduk dengan susah payah. Motor yang tadi kami tunggangi tergeletak begitu saja di samping kananku dengan roda depan masih berputar. Lalu aku menoleh ke kiri dan kudapati wajah Yasmin hanya beberapa senti dari wajahku.
Aku merasa napasku terhenti di tenggorokan.
Helm yang selalu lupa dikancingkan talinya oleh Yasmin menggelinding dua meter jauhnya sementara darah membanjir dari kepalanya ke aspal. Aku membeku menatap Yasmin, dengan wajah yang sama persis denganku, dan dia balas menatapku dengan tatapan kosong seolah menuduh. Matanya yang selalu berbinar penuh antusiasme kini bagai sebuah sumur kosong, kering tanpa dasar, dan aku merasakan tatapanku terpaku hingga air mata mulai bergulir di pipiku.
*
Malam itu aku terbangun dari mimpi buruk. Lagi. Aku mendesah, tahu bahwa setelah terbangun akan sangat sulit untuk kembali tertidur. Hal yang biasa terjadi tiap malam setahun belakangan ini. Maka aku menyerah dan bangkit. Kusambar biola di sudut ruangan dan kupasang shoulder rest sebelum kumainkan Air in G lagi. Lebih baik melakukan sesuatu yang produktif, pikirku sambil tersenyum masam dan menggesek nada pertama. Sembilan ketukan. Baru setelah paruh pertama selesai kumainkan, aku menyadari bahwa biola yang kumainkan bukan milikku.
Biola Yasmin.
Lalu samar-samar tercium wangi melati.


~The End~

Selasa, 28 Oktober 2014

[puisi] Pemuda

Masa depan adalah mereka,
Orang- orang berkata

Mereka adalah jiwa muda yang melek teknologi,
Mencicit dan berkoar sesuka hati, hingga masuk bui

Mereka adalah sunyi di sekolah,
Makan bersama, duduk bersama, tanpa kenal tetangga sebelah

Mereka adalah peragawan dan peragawati di atas catwalk,
Dengan si sakit sebagai tamu undangan, asyik melenggok

Mereka adalah penyembah keindahan,
Tak makanpun tak apa asal pakaian bertabur berlian

Mereka adalah sastrawan dan ahli budaya,
Hingga tak puas sebelum menciptakan bahasa

Mereka adalah hantu-hantu,
Meski bersepatu, tak sudi menginjakkan kaki di batu

Mereka adalah sejarawan kelas atas,
Tiap menit berdokumentasi meski bukan di atas kertas

Mereka adalah para pemalu,
Yang menunduk selalu

Masa depan adalah mereka,
Orang-orang tetap berkata

Oleh Ika Kartika
27 Oktober 2014
Diedikasikan untuk seluruh pemuda Indonesia,
dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Senin, 30 September 2013

[Poem] The Rain

I found the blinding light
The heat of the fire earth
That shattered my senses
'Is it the raging hell?'
I wondered
Then the smell of life
It overcame the dead of night
Solitude in sweetness
Oh, how it was the music to my ears
I was dissolved in the inviting coolness
Suddenly there were springs
Flowers and butterflies
And the rainbow overhead
They brought calmness behind my lids
A blissful oblivion
Finally

Senin, 22 April 2013

[Poem] The Crossroad of Destiny

The crossroad of destiny is the step U must take to reach the future.

U can only stand there, and watch, and wait for somebody to come after U, but U have no power to decide what's best for U, and what's best for the people around U.

U can choose one of the ways in front of U. That way, U have the quality to be a leader, first for yourself, then for others, for your life is depend on your choice.

U may choose the wrong path, and feel the remorse, and want to get back. But there's no way back to the past. And for the rest of your journey, U keep look back to the crossroad, and forget the future.

U may choose the wrong path. But if U are smart, U'll find another way to reach your future by keep walking with dignity and confidence, right to the front.

The thing is, THERE'S NO RIGHT PATH! It depends on our choice to MAKE our path right or wrong. And it's our duty to beautify the path we chose with everything worth for us.


By Ika, Dec 2009

(First published on my Facebook page)

[Puisi] Sajak Hujan

(Oleh Indit&Ika)

Kita menari dalam hujan di kota kita yang berlainan
Dalam hujan yang tiap malam mengusir nestapa
Malam begitu dingin, membekukan hatiku
Dalam malam dan dalam hujan
Yang tiada rembulan dan kerlip bintang
Hanya kebekuan yang menggantung tenang
Membawa separuh hatiku yang bergelayut rindu
Dalam relung malam yang pilu
Terbang dalam ciptaan tanpa jiwa nan ngilu
Mencoba menggapai angkasa tanpa kata
Mengamini setiap nafas hujan yang tiada bertepi
Membaurkan nestapa dalam tirai fana
Dan kutarik sepi ke alam mimpi
Hingga lelap mengikuti sampai pagi

(Ditulis dalam keadaan galau oleh dua sahabat yang ada di lain kota saat hujan malam hari XD)

[Poem] Sisters by Choice

Fate binds you to blood
Yet it has no power over your heart

Destiny may play your lifespan
Yet your choices are yours alone

It is the space that spread us apart
Yet you are here when my prayers start

Time has been cruel to us
Yet thousands means will come at last

You are not siblings nor family
Yet you are y sisters by choice

(a poem for my best friends, Indit and Tyas)

[Puisi] Jam Tiga Pagi

Jam tiga pagi
Suara Gemericik air saat bersuci
Ketika mentari masih sembunyi
Dia memulai hari

Jam lima pagi
"Sarapan apa pagi ini?"
Tak usah bertanya, meja makan tertata rapi
Dengan senyum dia meladeni

Sepagian ini
Dia berdandan dengan rapi
Tanpa cela hingga ujung kaki
Demi sesuap nasi

Sepanjang hari
Dikerumuni siswa-siswi
Ada juga tanda tanya tanpa henti
Tapi keluh kesah tak jua terjadi

Siang hari
Anak-anak di rumah tak sabar menanti
Merengek menangis minta dikeloni
Dia pun tersenyum lagi

Sore hari
Bapak minta dibikinkan kopi
Disajikannya pula secuil roti
Sebagai tanda bakti pada Suami

Senja hari
Burungpun enggan bernyanyi
Saatnya makan malam kini
Bapak dan anak-anak minta nambah dua porsi

Malam hari
Tugas kantor masih di laci
Piring kotor belum dicuci
Ah, maka lembur pun dijalani

Jam tiga pagi lagi
Memulai hari yang sama lagi
Ibuku yang perkasa ini
Tetap tegar hingga akhir nanti

(ditulis untuk para ibu dan wanita Indonesia, dalam memperingati Hari Kartini 2013, atas permintaan sahabat saya dr.Wieke Ockvianasari)